Friday, January 16, 2015

Adult Piano Education


"Orang tua dulu ga support untuk musik, yang penting sekolah dulu. Padahal pingin.. Sekarang udah terlambat deh mau belajar."

Saya seriiiing sekali mendengar kisah seperti ini, bahkan kalimat itu juga pernah keluar dari mulut saya dalam versi yang sedikit berbeda. 

Orang mengira saya sudah bergelut dengan piano sejak kecil. Tidak terlalu salah karena memang saya pernah les piano dan organ saat kelas 5 SD, tapi hanya 2 tahun.. Yang lama les organnya, sampai 9 tahun. Ketika dewasa, saya stuck dengan perorganan. Dan sebenarnya sudah sejak lama saya lebih tertarik ke piano. Maka keluarlah kalimat tadi dari mulut saya.. 

November tahun 2014 kemarin, tepat 6 tahun saya belajar piano dengan intens. Untuk memperingatinya, saya akan menceritakan sebuah keajaiban.

Di tengah luangnya waktu mengerjakan skripsi--maksud saya, di saat bengong harus mengerjakan dari mana, memperbaiki apa, dan sebagainya, saya mulai memikirkan nanti setelah lulus mau bekerja yg bagaimana. Teringat lagi impian waktu kecil, kalau ditanya orang saya selalu bilang 'mau jadi guru'. Guru organ tentunya.. Tapi dalam hati saya tidak terlalu yakin menyebut 'jadi guru organ', karena yang terbayang adalah sosok tunggal bermain di balik alat akustik hitam dengan tuts berjajar panjang satu baris.

Maka ketika memikirkan lagi dan impian itu masih muncul, saya semakin serius berpikir. Tahu kan.. Seringkali kita memiliki mimpi namun ketika dewasa tidak lagi ingat, atau bahkan terkikik geli menertawakan mimpi kita sendiri. Mimpi yang satu ini tidak membuat saya terkikik, dan masih melekat sama kuatnya ketika anak-anak. Saya mulai mencari jalan.. Memikirkan peluangnya untuk terwujud.

Kebetulan pada saat itu, entah mengapa saya sering diminta untuk mengiringi dengan piano (walaupun atas dasar 'terpaksa' karena pianis aslinya berhalangan, atau karena si klien tidak bisa membedakan organis dan pianis). Tawaran untuk memberikan kursus pun datang. Saya pun bingung.. Mau ngursusin apa, saya sendiri ndak bisa main piano. 

Di suatu pagi, usai misa di gereja depan kos, sebuah pamflet berwarna menarik perhatian saya. Kursus piano! Di situ ditulis 'bisa ujian berijazah'. Pengajarnya pun bergelar MPd. Pamflet itu secara keseluruhan menunjukkan hal yang tidak biasa. Aneh. Dan saya..selalu tertarik dengan hal yang aneh-aneh. XD

Mengapa seorang guru piano menyertakan gelar master pendidikannya? Gelar tersebut didapat dari bangku akademis pastinya, dan biasanya orang akan melihat kemampuan seorang guru piano dari 'muridnya siapa?', 'lulusan konservatori?', 'pernah juara apa?'. 

Keanehan kedua.. Pamflet sejenis biasanya dibuat dengan tidak niat, atau amat sangat niat sehingga terkesan berlebihan. Tapi yang ini diprint di kertas hvs warna pastel, dengan gambar sederhana sepasang tangan di atas tuts piano dengan hiasan not-not balok di sekitar tulisan. Gaya bahasa yang jelas, singkat dan lugas. Saya langsung merasa 'klasik' ketika melihatnya. :D Saya mau jadi guru, bukan entertainer. Saya tidak tertarik dengan gemerlap pamflet yang menjanjikan gemerlap panggung.

Ini yang saya cari. Mari kita lihat, apa yang bisa ibu MPd lakukan pada lulusan S1 bongkot yang hendak banting setir ke piano ini. Maka saya menelponnya.

Saya langsung saja menuturkan latar belakang musik saya dan menyebutkan keinginan saya untuk les dengan tujuan ambil ijazah-ijazah sehingga bisa jadi guru piano. Apakah langsung diiyakan? Tidak, hahaha.. 'Saya harus lihat dulu mainnya bagaimana. Kapan bisa menemui saya?', begitulah respon yang langsung membuat saya keder sedikit.

Iya ya.. Saya ini belum bisa main piano, kok bilang les cuma mau ambil ijazah. XD Kalau inget, maluuuu banget. Dan di hari yang dijanjikan, saya bermain sebuah lagu dengan menekan pedal sustain sepanjang lagu.. Khas amatir hahaha..

Seiring proses saya semakin memahami, guru saya bukan guru biasa. Beliau lulusan master pendidikan musik dengan thesis pendidikan musik untuk orang dewasa. Hampir di setiap les kami berbincang tentang pengalaman bermusik, tujuan saya menjadi guru, bahkan saya pernah menangis di depannya saat merasa sudah tidak mungkin lagi melanjutkan les piano ini karena sibuk bekerja.

Dengan pengalaman mengajar piano puluhan tahun dan pendidikan akademisnya, Beliau tahu benar bagaimana menghadapi murid-murid model kayak saya begini. Tidak hanya mengajarkan bermain piano yang benar, Beliau juga mengajarkan budaya, cara belajar sampai etika menjadi guru piano klasik.

Anda akan tahu kualitas seseorang ketika memahami apa yang dilakukannya, apa yang diberikannya. Bukan dari ijazah atau embel-embel yang meyakinkan. Guru saya memiliki 2-2nya, namun tahu benar apa yang harus diberikan sebagai guru. Saya sendiri seringkali tidak paham, mengapa Beliau memberi sebegini 'mewah'. Uang les yang saya bayarkan setiap bulan tidak ada apa-apanya dibandingkan pelajaran yang hanya bisa didapat dari pengalaman dan cara berpikir yang oke untuk mengolah pengalaman-pengalaman itu.

Begitulah, beliau selalu bilang, jika mengajar orang dewasa. Anak-anak mungkin hanya perlu diteter kedisiplinan dan diajarkan cara bermainnya, tapi orang dewasa datang dengan segala permasalahannya; sehingga mengajarnya pun tidak bisa disamakan dengan anak-anak.

Belakangan saya tahu, bahkan untuk membuat pamflet dan mini concert-mini concert pun beliau tidak asal. Semua adalah aplikasi dari ilmu yang ditimbanya dari banyak sumber. Di zaman yang serba praktis sekarang, berapa banyak guru yang mau repot-repot berusaha 'menjadikan' muridnya sampai benar-benar berhasil? Karena itu saya sebut di awal cerita, ini adalah keajaiban. =)

Monday, June 17, 2013

Menyusun Kurikulum^^


Dari pengalaman bertahun-tahun dan melihat kebutuhan orang, saya membagi empat kategori orang belajar alat musik klavir ini: piano klasik, piano pop, organ klasik dan organ pop.

Piano klasik, tak perlu dijelaskan, punya keindahannya sendiri dan sampai sekarang diyakini menjadi akar dari semua aliran piano yang ada. Tapi tidak banyak yang betah dengan prosesnya yang lama dan bertahap, serta lagu-lagu yang harus dipahami dengan jiwa yang sederhana dan imajinatif.

Piano pop, semakin banyak diminati orang karena lagu-lagunya yang lebih akrab di telinga dan catchy. Kebanyakan orang akan berpikir, belajar piano pop lebih sederhana dan tidak serumit piano klasik. Nyatanya, tetap saja Anda butuh belajar piano klasik dulu agar bisa memainkan piano pop dengan smooth dan indah.

Organ klasik. Tidak banyak yang tahu keindahan suara instrumen organ memainkan karya-karya musik era baroque hingga romantik. Organ identik dengan alat musik gereja, dan karena pengajaran organ yang dipopulerkan di Indonesia adalah khas milik satu lisensi, maka gaya bermain itulah yang melekat di organ. Padahal komposisi-komposisi organ klasik tidak kalah banyaknya dengan piano dan dilahirkan hampir bersamaan dengan komposisi piano oleh musisi-musisi beken pada zaman itu.

Organ pop. Nah, ini biasanya pilihan orang-orang yang terlanjur memiliki organ dan ingin belajar dengan alat yang ada. Bisa aja sih lagu-lagu pop dimainkan dengan organ, namun keinginan ini ada di tengah-tengah. Jika dimainkan ala kadarnya, maka jadinya tidak lepas dari nuansa gerejani dan mm.. sedikit.. kuno? Sebaliknya, organ juga bisa memfasilitasi kita bermain full band dengan fitur-fitur yang diberikan. Namun ini butuh effort yang lebih banyak. Bayangkan seperti bermain keyboard, tapi Anda harus mengatur 3 suara, bermain 3 klavir di saat bersamaan dan memikirkan iringan yang pas pula untuk tiap bagian lagu. Wow!

Yah.. begitulah. Sejauh ini ada aja murid yang minta empat kategori ini, maka saya mulai menyusun apa yang akan saya ajarkan.

Piano klasik sudah punya tuntunan sendiri, dan di seluruh dunia sampai kapan pun, tuntunan ini tidak banyak berubah. Seringkali urutan memberikan materi  diubah-ubah, disesuaikan dengan kemampuan murid menyerap materi. Secara garis besar, berikut ini materi yang perlu disampaikan:
# cara menekan tuts yang benar dan baik
# mengenal, menghafal dan merasakan not balok
# cara bermain legato dan staccato
# mengidentifikasi melodi dan pengiring
# mengenal pola melodi dan harmoni
# menerapkan dinamika
# menerapkan perubahan tempo
# mengasah keterampilan jari
# melatih gaya bermain untuk menunjang bunyi
# membedakan ekspresi
#mengenal ciri khas para komposer
# mengenal ciri khas bentuk-bentuk komposisi

Piano pop. Tiap sekolah musik, tiap guru bisa memiliki materi ajar sendiri-sendiri karena berdasarkan pengalaman pribadi mereka mengeksplor perkembangan musik era kekinian. Oleh karena itu, butuh banyak sumber dan pemikiran yang lebih dalam menyusun kurikulumnya. Saya memutuskan basicnya adalah sebagai berikut.
# sepaket tangga nada
# perbanyak sampel lagu
# kenalkan bentuk iringan
# sepaket chord
# ajarkan membuat intro-interlude-ending
# improvisasi dan bridge

Organ klasik. Syukurlah karena ilmu ini sama kunonya dengan piano klasik, ada tuntunan juga yang tidak banyak berubah dari dulu sampai sekarang dan hampir sama dengan piano. Hanya saja, mendapatkan buku-buku ini sangat sulit di Indonesia. Satu-satunya yang lengkap dan terjangkau adalah metode pembelajaran bermain organ ala Pusat Musik Liturgi Yogyakarta. Jangan tertipu dengan gambar dan notasinya yang seringkali masih ditulis dengan tangan dan judul-judul lagu yang di-Indonesiakan, karena lagu-lagu di buku PML sebenarnya banyak yang terjemahan dari karya komposer –komposer beken.


Organ pop. Tahapannya sama dengan piano pop, namun dengan cara bermain ala organ. Kembangkan imajinasi iringan yang ingin dibuat, set suara dan accompaniment; tentukan tangan mana yang memainkan melodi, iringan dan bassnya. Saya tidak mengajarkan memaksimalkan fitur karena setiap organ punya fitur yang berbeda. Saya sendiri tidak begitu paham dengan organ-organ yang berbeda tipe dengan punya saya dulu. Sebagai dasar, pengetahuan tentang intro-ending-fill in-syncro start-syncro stop perlu untuk diberikan sehingga murid bisa mengembangkan permainannya sendiri.

Saturday, July 7, 2012

Satu Lagu Sempurna Atau Banyak Lagu Bercacat?



Idealnya, belajar piano itu.. lagu yang satu beres, beralih ke lagu berikutnya. Jika suka, lagu yang lama boleh terus dimainkan sendiri oleh murid sehingga dia hafal dan bisa memainkannya kapan saja sebagai lagu performance. Murid tidak diberi lagu baru jika lagu yang lama belum bisa dimainkan dengan baik.


Nah, masalahnya.. bagaimana jika murid tidak kunjung bisa menyelesaikan satu lagu. Sampai lebih dari 1 bulan pertemuan (yang berarti empat kali pertemuan), lagu yang sama tidak juga berhasil dibawakan dengan baik. Baca notasi tidak lancar, ketukan kacau apalagi dinamika dan pembawaan lagu.. =.="


Haruskah bertahan di lagu itu dan memaksanya hingga bisa menguasai satu lagu tersebut?


Bertahan di satu lagu berisiko membuat murid bosan dan merasa tidak ada progres. Kalau ingin ada progres ya latihan dong, berusaha. Nah itu masalahnya, gimana bikin anak ini mau latihan. Bagaimana pun, keputusan untuk terus belajar atau tidak, ada di tangan murid. Seharusnya sih kita memotivasi dia untuk terus semangat belajar, bukan malah membuatnya merasa percuma belajar piano dan akhirnya keluar.


Seringkali, malah gurunya yang frustrasi dan berharap si murid cepat-cepat angkat kaki aja, hehe.. Lain lagi ceritanya kalau gitu.


Menurut saya nih, cara yang paling tepat sejauh ini adalah meneruskan pelajaran dulu dengan memberi lagu baru, trus nanti setelah batas tertentu, diulang lagi lagunya dari awal, huehuehue... Untuk lagu barunya, sebisa mungkin lagunya yang menarik, yang bikin murid pingin banget tampil bak Maxim Mrvitcha gitu. Ga perlu susah, tapi yang keren. Contohnya.. Arabesque-nya Burgmuller atau kasihlah lagu-lagu kesukaannya dia.


Saya pernah menemukan murid yang kelihatan berbinar banget kalau dikasih lagu rohani. Yah namanya juga les piano klasik, masak mau dikasih lagu rohani terus; tapi apa boleh buat, akhirnya saya sisipkan satu lagu rohani di antara materi lagu klasik. Biasanya sih pakai jual omongan juga.. 'teknik di lagu ini perlu buat main gaya ini di lagu rohani itu, jadi harus bisa lagu ini yak' >> semacam itulah, hihihihi..